Aksi Kumpul Koin untuk Pedagang yang digugat 1 Miliar

0

Suarakendari,com, Yogyakarta – Para Aktivis Gerakan Masyarakat Peduli Pekerja Kaki Lima (PKL) melakukan aksi pengumpulan koin di Jl. Birgjend Katamso. Aksi dilakukan di Tugu Yogyakarta ini sebagai bentuk solidaritas terhadap nasib Lima pedagang yang digugat Satu Miliar oleh Seorang pengusaha.

“Ini adalah pengumpulan koin untuk lima orang PKL yang digugat Rp 1 miliar. Kami merasa prihatin dan ingin berbuat sesuatu untuk membantu,” ucap salah satu penggagas aksi solidaritas pengumpulan koin, Baharudin Kamba, Rabu (16/8/2015).

Baharudin mengatakan, selain para aktivis dan masyarakat, hadir pula tiga perwakilan dari lima orang PKL yang digugat, yaitu Agung, Budiyono dan Sugiyadi.

Gerakan ini, lanjutnya, merupakan bentuk keprihatinan atas peristiwa yang menimpa para pedagang kaki lama itu. Selain mengumpulkan uang hingga 1 Miliar, Aksi ini juga untuk mengetuk hati warga masyarakat untuk peduli terhadap sesama.

“Kami ingin membuktikan bahwa banyak masyarakat yang peduli dengan kasus ini,” ungkapnya.

Menurut Baharuddin, Aksi pengumpulan koin ini akan tetap dilakukan sampai vonis pengadilan. Bahkan, para aktivis berencana akan mendatangi DPRD Provinsi dan Pemkot untuk menggalang koin. Gerakan solidaritas ini juga akan digaungkan via media sosial.

“Akan terus kita gaungkan aksi solidaritas pengumpulan koin ini di beberapa tempat di Yogya. Di medsos juga akan kita suarakan,” tandasnya.

Agung, salah satu PKL, mengaku sangat berterimakasih dengan adanya solidaritas dan dukungan dari masyarakat Yogyakarta atas kasus yang menimpanya bersama empat orang lainnya. Uang koin ini nantinya akan digunakan untuk berjaga-jaga membayar gugatan jika kalah di pengadilan.

“Terima kasih kepada masyarakat Yogyakarta atas dukungan dan kepedulianya. Uang ini untuk berjaga-jaga saja, membayar kalau kita kalah di pengadilan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, lima orang PKL di Jln Brigjen Katamso Prawirodirjan Gondomanan digugat Rp 1 miliar karena dituding menempati tanah 4×5 meter tanpa izin. Tanah tersebut diklaim milik seorang pengusaha Eka Aryawan setelah mendapat surat kekancingan dari keraton pada 2011 lalu. (Kompas)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.