Connect with us

Aksi Demonstrasi Guru di Kolaka Cederai Dunia Pendidikan

Uncategorized

Aksi Demonstrasi Guru di Kolaka Cederai Dunia Pendidikan

 

KOLAKA, Suara Kendari – Aksi demonstrasi ribuan guru di Kolaka beberapa hari yang lalu nampaknya berbuntut panjang. Mereka yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), di Kolaka dianggap telah menciderai dunia pendidikan. Sebab sejak memulai aksinya beberapa hari yang lalu, para guru meliburkan para murid secara sepihak, bahkan tidak jarang dari para ‘Oemar Bakri’ itu meninggalkan jam mengajar.

Berbagai pihak di Kolaka mengecam tindakan para pendidik ini. Contohnya Kepala Dinas Pendidikan Kolaka, H. Abdulla. Menurut dia, dengan meninggalkan jam mengajar dan meliburkan sekolah secara sepihak adalah tindakan yang ego dan tidak patut dilakukan. Sebab seprang guru itu mempunyai kewajiban untuk menjalankan tugasnya dan tidak mestinya sekolah dan murid terbengkalai.

“Yang kami sayangkan kenapa mereka tega meninggalkan tugas dan kewajibannya. Murid disuruh pulang pada saat jam sekolah, padahal mereka itu telah dibayar oleh Negara untuk melaksanakan tugas. Kenapa juga berdemo tapi menelantarkan siswa yang ada. Saya paham dengan kasi solidaritas itu, tapi caranya yang salah, kenapa harus kewajiban yang tersingkirkan. Saya akan melakukan pendatyaan dan menegur kepsek yang gurnya ikut berdemo,” kata Kepala Dinas Pendidkan, H.Abdullah.

Salah satu Orang tua murid yang ditemui mengaku sangat mengecam keras tindakan para guru yang ikut ikutan berdemo, padahal mereka sendiri sudah tau bahwa tidak satupun yang bisa mengintervensi proses hukum yang berlaku di negara ini. “Inikan sama saja dengan merendahkan profesi mereka sebagai pendidik yang notabena adalah pekerja intelek, masa masalah hukum mau diintervensi sementara kewajibannya tidak dipenuhi. Kalau begini terus, saya akan menghimpun para orang tua murid yang merasa dirugikan untuk melakukan aksi demo tandingan agar mereka tau jika tindakannya selama ini dianggap tidak rasional. Wahai guru, sadarlah. Kewajiban untuk mengajar disekolah menantimu. Jangan rugikan kami dan anak kami dengan sikapmu selama ini,” kata Zakiman.

Secara terpisah, Kepala Kejaksaan Negeri Kolaka, Wahyudi yang ditemui di Kolaka menilai jika proses hukum yang dialami oleh guru di Kolaka belum bersifat final karena masih banyak langkah hukum yang boleh ditempuh jika putusan yang telah dijatuhkan oleh hakim di PN Kolaka dianggap tidak memenuhi unsur keadilan. Namun kata Wahyudi sebaiknya semua warga negara sebiknya mematuhi proses hukum yang berlaku.

“saya bahkan mengharapkan agar kasus ini bisa ditemukan solusi terbaik.  makanya dibutuhkan sinergi antara guru dan orang tua murid agar kejadian seperti ini bisa diselesaikan secara musyawarah dengan tetap mengedepankan asas keadilan. Sebab mereka para murid adalah anak anak kita juga. Mereka wajib diberikan pendidikan yang baik dan layak.” Tutup Kajari.

Sebelumnya lebih dari 1.000 guru yang tersebar di seluruh Kabupaten Kolaka melakukan aksi unjuk rasa, Senin (27/1) lalu.  Aksi digelar di dua tempat yakni, Kantor Pengadilan dan Gedung DPRD Kolaka.  Mereka menuntut keadilan terhadap tiga kolega mereka, Pailudin, Naumi dan Suryana. Ketiganya adalah guru di SMPN 1 Wundulako yang dituduh melakukan pemukulan terhadap siswa berinisial AA di sekolah.

Tiga guru ini sebelumnya telah divonis bersalah oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Kolaka. Mereka pun dihukum penjara selama satu bulan. Vonis majelis hakim inilah yang memicu reaksi dari Persatuan Guru Republik Indonesia di Kolaka. Mereka sepakat untuk memberikan dukungan moral. Bahkan, dalam aksi demonstrasi ini, para guru juga melibatkan ratusan murid dari berbagai SMP dan SMA yang ada di Kolaka.  Sejumlah spanduk dan poster mereka gelar, salah satunya bertuliskan ‘pak hakim bebaskan guru kami’.

“Bebaskan guru kami. Dia tidak bersalah bahkan yang murid itu diberi pembinaan tapi malah melaporkan masalah ini kepada Polisi. Tolong Pak hakim bebaskan guru-guru kami yang tidak bersalah itu,” teriak para murid yang ikut berdemo.

Bustam, Kepala SMPN 1 Wundulako, memimpin aksi demo mengatakan, tidak seharusnya guru dihukum penjara. “Kami menuntut keadilan terhadap rekan kami. Kami minta agar guru-guru kami dibebaskan. Guru yang menciptakan hakim, polisi, jaksa dan lainnya. Tidak seharusnya guru dipenjara,” teriak Bustam saat berorasi.

Mereka juga berharap agar proses sidang berikutnya guru yang bersangkutan bisa mendapatkan keadilan. “Dari tujuh yang terlapor, empat ditetapkan sebagai tersangka, namun satunya terkena tindak pidana umum sementara proses di Polres Kolaka. Sementara tiga orang itu masuk dalam tindak pidana ringan dan sudah divonis satu bulan penjara. Nah yang satu ini diharapkan bebas dan yang tiga orang akan naik banding. Kami berharap dibebaskan di pengadilan tinggi,” tegasnya.

Tak mendapatkan titik temu dalam unjuk rasa di  pengadilan, mereka lantas melanjutkan aksi di  Gedung DPRD Kolaka. (ABDI)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Uncategorized

To Top