Connect with us

Akibat Kelelahan, Ketua KPPS Punggaloba Meninggal Dunia

Hukum & Kriminal

Akibat Kelelahan, Ketua KPPS Punggaloba Meninggal Dunia

KENDARI, SUARAKENDARI.COM – Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di tempat pemungutan suara (TPS) 4 Kelurahan Punggaloba Kecamatan Kendari Barat, Abdul Hafid (40) meninggal, karena sakit setelah kelelahan usai perhitungan suara pemilu legislatif, 9 April lalu.

Ia menghembuskan nafas terakhir, Minggu (4/5/2014) pukul 09.00 Wita di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abunawas Kendari. Sebelumnya, lelaki tiga anak itu menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut selama dua pekan. Dokter memvonis Hafid menderita infeksi paru-paru.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kendari, Hayani Imbu membenarkan meninggalnya penyelenggara tersebut. Hayani melayat ke rumah duka pada pukul 12.00 Wita. Ia mengaku merasa kehilangan Abdul Hafid.

“Kami doakan, semoga beliau diterima di sisi-Nya. Beliau itu kerjanya sangat baik dalam pemilihan legislatif. Kami merasa kehilangan pak Abdul Hafid,” ungkapnya sedih, Minggu (4/5/2014).

Pria Kelahiran Palu, Sulawesi Tengah itu dimakamkan di tempat pemakaman umum Punggolaka, Kendari, pukul 16.00 wita. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil.

Seperti diberitakan sebelumnya, Abdul Hafid jatuh sakit setelah kelelahan usai melakukan perhitungan suara pemilu legislatif, 9 April 2014 hingga pukul 03.00 wita. Dia sempat dirawat di rumahnya selama beberapa hari. Namun, pada Rabu (23/5/2014), ia harus dibawa ke rumah sakit setelah kondisi kesehatannya memburuk. Saat itu, hafid tidak bisa bersuara. Tetapi, setelah mendapat perawatan medis, ia sudah mampu berbicara meskipun nada suaranya kecil.

Dari pemeriksaan dokter, lelaki ini menderita infeksi paru-paru. Tanggung jawab yang diemban Abdul Hafid tidak sesuai dengan upah yang ia terima dari KPU Kendari.

Dia mengaku hanya digaji sebesar Rp 400.000. Uang sebesar itu tidak sebanding dengan biaya pengobatan yang ia keluarkan saat itu hingga melebihi Rp 1 juta. “Kalau perawatan, saya pakai asuransi kesehatan. Jadi sedikit agak ringan. Tapi, selama pengobatan, saya sudah keluarkan uang lebih dari Rp 1 juta,” ujarnya.

Tuti ibunya saat ditemui di kamar C5 ruangan Lavender RS Abunawas Kendari, Jumat (2/5/2014) Pria yang bekerja sebagai wiraswasta itu sudah menjadi KPPS sejak 2004 lalu. Namun, diakuinya pemilihan legislatif. 2014 ini lebih berat dibandingkan pemilihan legislatif sebelumnya. “Ini banyak data yang harus diinput. Akhirnya, kita harus begadang sampai subuh untuk rekap hasil perhitungan suara,” tutur Hafid.KIKI

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Hukum & Kriminal

To Top